OUTSOURCING ARTICLES

MUSIM SEMI DI EROPA: TIP MENGURUS VISA

SEPTEMBER 22, 2014 SHOFWANKARIM LEAVE A COMMENT

Musim Semi di Eropa

Pengalaman Mengurus Visa ke Mancanegara

Oleh Shofwan Karim

Perjalanan ke Eropa sudah berkali-kali bagi keluarga kami.Tahun 1988, 1994, 1996, 2004 dan sekarang insya Allah yang ke 5. Perjalanan lain ke Afrika, Timur Tengah,Russia, China, Jepang dan Amerika Utara . termasuk Canada dan, sepuluhan negara bagian Amerika Serikat, kali lainnya, sudah kami lakukan sejak 1980.

DSC00227

Kami belum pernah ke Amerika Selatan dan yang lebih dekat Australia. (Edited: Saya dan Isteri ke Australia, Perth dan Kota-Kota lain, Australia Barat, baru terlaksana, 1-8 November 2016).

DSC00217

Kecuali Adam Putra Shofwan (18) siswa kelas XII yang dari 1 sd 16 September 2014 lalu ke Perth dan Narrogin, Australia Barat mengikuti Bridge Program Indonesia-Australia School Sister MAN 4 Jakarta dan NarroginSenior High School. Selebihnya anggota keluarga kami belum pernah menjejakkan kaki di dua kawasan itu ( America Latin dan Australia) Entah kenapa. Padahal teman-teman di negeri Latin Amerika dan Kanguru sering mengundang,datanghlah ke sana.

Soalnya untuk masuk ke berbagai negara di berbagai belahan benua di dunia mengalami perubahan praturan pada tenggang masa tertentu. Katanya ke Jepang, untuk kunjungan 30 hari, orang Indonesia akan bebas visa atau (?) visa on arrival, mulai Januari 2015 ini.

Meskipun sudah berkali-kali ke manca negara, tetapi janganlah disangka mudah dan enteng dalam segala urusan. Persiapan kami lakukan jauh hari. Untuk yang sekarang sudah kami siapkan sejak Juni 2012. Baru terlaksana pada 6 sampai dengan 23 Mei 2013 lalu. Dan ke Kanada pada 13 sampai dengan 21 Desember 2013. Kembali ke Eropa, kami mengikuti workshop 2 hari di Hattingen, Jerman dan seterusnya untuk berbagai maksud kami datang ke 16 kota di 6 negara Eropa lainnya setelah Jerman ini.

Hal itu terpicu karena Dubes Jerman, DR. Eddy Pratomo, SH.,MA dan ibu Atiek Pratomo sejak lebih kurang 4 tahun lalu bertugas di Jerman. Awal 2014 Dubes RI di Jerman dijabat oleh Fauzi Bowo, Mantan Gubernur DKI. Pak Eddy dan Bu Atiek –demikian kami menyebut– adalah teman banyak orang ini, sudah berkali-kali berpesan baik langsung maupun via digital, untuk kami berkunjungke tempatnya bertugas.

Alasannya sederhana, sejak 1988, kami kenal dengan diplomat senior itu bertugas di Amerika, seterusnya ada saja peluang dari Allah untuk kami berkunjung ke Negara tempatnya bertugas. Seperti ketika beliau bertugas di Swiss, kemudian Inggris dan Allah telah berkehendak-membawa kami ke sana, alhamdulillah kali ini di Jerman. Ke Geneva, Swiss, bahkan 2 kali kami kunjungi, 1994 dan 1996 dan ke London, UK 2004.

Untuk ke Jerman, Doktor Ilmu Hukum hubungan internasional ini, selalu bilang, kenapa saya dan keluarga tidak “nimbrung” saja dengan rombongan orang-orang Sumbar yang datang ke Jerman. Sejak menjadi Dubes RI di Jerman, Pak Eddy sering menerima kunjungan orang Minang. Mulai dari Gubernur, Wakil, Bupati, Wali Kota, anggota Dewan serta rombongan seni-budaya Sumbar, berbagai festival kuliner dan pameran wisata dunia, masyarakat Sumbar diterima Dubes ini.

Tentu saja selama ini setiap dikatakan begitu, kami senyum dan mengucapkan insya Allah saja. Padahal 27 September sampai dengan 10 Oktober 2009 kami ada kegiatan di Eropa Utara dan Russia. Waktu itu kami hanya transit saja di Bandara Frankfurt, Jerman. Kami waktu akan menyeberang di Pelabuhan Helsinki, Finlandia ke Tallin, Estonia. Dan masaya Allah, tia-tiba di sore yang cerah waktu setempat kami dikabari gempa dahsyat dengan korban ribuan orang terjadi di Sumbar. Tentu kami sangat terpukul dan isteri saya Imnati menangis terisak-isak ingat nasib Putri Bulqish dan keluarga serta Adam anak-anak kamu yang di rumah Tunggul Hitam tak tentu nasibnya. Setelah 4 jam, baru kami dapat berhubungan via telepon. Setelah anak kami di Jakarta, Iqbal dan Bandung, Shofwim berkabar lebih jelas serta segera terbang ke Padang, barulah hati kami sedikit lega.

Kembali ke Pak Eddy, pada bulan Juni 2012, datang undangan resmi dari Dubes yang juga sahabat kami almarhum Uda Yonda Djabar. Tetapi belum dapat kami penuhi,karena berbagai hal yang belum dapat kami atasi.

Maka pada awal tahun 2013, alhamdulillah ada peluang. Kali ini dari mitra kerja Semen Padang di Jerman. Sebuah perusahaan terkenal pembuat mesin industri berat dan mesin industri semen di Hattingen, Jerman mengundang kami mengikuti workshop dan vistitasi ke pabriknya. Kami berangkat dengan Basril Basyar rekan saya sebagai komisaris dan isteri serta Admartin dan Daconi Kepala Pabrik Indarung V dan Indarung II/III.

Meski sudah ada undangan dari perusahaan besar kepada kami, dan khusus untuk saya dan istri dilengkapi undangan Dubes RI, ternyata itu pun tidak mudah. Keberangkatan kami tertunda-tunda karena pengurusan visa yang harus disesuaikan dengan jadwal kami di Eropa. Secara jujur saya katakan, saya ingin memanfaatkan kunjungan itu untuk menemui sahabat keluarga di berbagai kota di berbagai negara. Ada Pak FDubes dan nyona di Berlin. Ada Arlinda dan keluarga teman kecil isteri saya di Amersfoordt, Eliza di Apeldoorn, Uni Asni Harun anak-anak dan menantu di Den Haag, Bang Jusuf Sokartara dan keluarga di Hoopdorf, semua di Belanda.

Di Brussels, Belgia ada Aswita Amarullah Robert Leyten dan anak-anak serta menantu. Di Paris ada sahabat kami Yukon Putra dan istri. Di Koln, Jerman dan ini artinya kami harus masuk lagi ke Jerman ada Cynara Salman alumni pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada yang mula kuliah S2 kemudian kerja di sini. Padahal beberapa hari sebelumnya kami di Hattingen yang hanya sekitar 1 jam dengan mobil ke Koln, tetapi karena jadwal ke Berlin sudah diartur sebelumnya, maka kami atur ukang jadwal untuk ketemu Cynar.

Di Geneva Swiss, ada teman kami yang sudah tidak bertemu sejak 1985. Dia Kristin Greenaway yang sengaja mempercepat kepulangannya dari dinas di Acra, Ghana, Afrika Utara. Kristin adalah sahabat kami di Toronto, Canada tahun 1984 dan tahun 1985 mengunjungi keluarga kami di Padang. Ada Tina Magini di Rocca di-Papa dekat kota Roma, Italia yang sudah ke rumah kami di Padang tahun 2012. Banyak lagi yang lain yang tak bisa kami sebutkan satu-persatu.

Harapan kjami membara untuk bertemu sahabat-sahabat itu. Akan tetapi kami harus berfikir keras dan kerja keras menyusun rencana dan lebih-lebih lagi soal administrasi izin masuk ke Eropa.

Visa itu belum keluar dari kedutaan jerman Jakarta negara tujuan pertama kami. Meskipun sudah ada undangan resmi, tetapi kami masih tetap mempersiapkan segala administrasi sesuai prosedur-baku pengurusan izin masuk dan tinggal sementara yang lazim disebut visa.

Menurut seorang penghubung dari kantor perwakilan perusahan Jerman di Jakarta yang mengundang, kami harus mengisi formulir, melampirkan foto ukuran passport, kartu keluarga, copy-passport dan passport yang berlaku lebih dari 3 bulan, ekening koran, akte kelahiran, surat nikah, dan sejumlah uang biaya, surat sponsor,surat perjalanan perusahaan, booking ticket, booking hotel dan schedule perjalanan.

Setelah semuanya siap, kita harus booking hari pendaftaran untuk memasukkan permohonan visa dimaksud, dapat dilakukan pada salah satu Kedutaan Besar Eropa, khusus untuk konsuler bagian visa. Untuk kali ini, karena kami akan masuk di Dusseldorf, Jerman, maka kami harus ke Kedutaan Besar Jerman.

Dulu, tahun 1994, 1996, kami mengajukan visa untuk Eropa dengan beberapa visa untuk beberapa Negara. Misalnya satu visa untuk Benelux (Belgium, Netherland dan Luxemburg). Masing-masing,sendiri-sendiri satu visa untuk Jerman, Swiss, Italy, Spanyol dan Inggris.

Belakangan berubah. Cukup 1 visa berlaku di beberapa Negara sekaligus yang disebut visa Schengen, 7 negara sekaligus. Belanda, Bergia, Luxemburg, Perancis dan Jerman, Spanyol dan Italia.

Oleh karena itu, mengurus visa Schengen agak banyak syaratnya dibandingkan masa lalu dan tentu saja seleksinya cukup hati-hati,kalau tidak disebut, ketat.

Akan tetapi sejak beberapa tahu terakhir sesuai perkembangan dunia yang semakin bergerak cepat, tanpa batas, dan ekonomi yang berkembang pesat, meski ekonomi beberapa wilayah Eropa dianggap bermasalah akhir-aklhi ini, maka Schengen bisa berlaku untuk 27 negara. Sejak 19 Desember 2011 untuk kunjungan 1 sampai dengan 90 hari, bagi WNI berlaku untuk Belgia, Denmark, Jerman, Finlandia, Perancis,Yunani, Italia, Luxemburg, Austria, Portugal, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Eslandia, Malta, Estonia, Hongaria, Latvia, Lituania, Polandia, Slovenia, Slowakia, Republik Ceko, Swiss, dan Liechtenstei. Tetapi tidak untuk Ingris Raya (UK) dan Russia.

Di dalam petunjuk umum yang perlu diperhatikan adalah hal-hal berikut. (1) Mendapatkan visa itu bukan hak; (2) Alasan untuk kunjungan tidak dapat diubah kemudian ; (3) Seluruh jangka waktu kunjungan ke wilayah Schengen tidak boleh lebih lama dari pada 90 hari dalam setengah tahun; (4) untuk masuk wilayah Schengen berulang kali selama kunjungan yang diminta hanya akan diberikan jika nyata dari jadwal perjalanan bahwa dalam periode itu juga ada perjalanan kenegara di luar wilayah Schengen dan jika visa untuk tujuan lanjutan itu ada di paspor; )5) Permohonan harus dilakukan pemohon sendiri, permohonan melalui orang ketiga atau melalui pos tidak akan ditangani; Pengecualian lihat (4); (5) Mungkin pada saat masuk wilayah Schengen petugas imigrasi akan menanyakan dokumen-dokumen yang relevan untuk perjalanan seperti tujuan perjalanan, keuangan, data sponsor, reservasi hotel dsb.

Permohonan visa harus diajukan ke Kedutaan Besar negara yang menjadi tujuan utama atau kunjungannya paling lama. Untuk ini lihatlah daftar alamat dan nomor telepon Kedutaan-kedutaan Besar. Oleh karena itu kita harus negosiasi dengan travel agent soal tiket pesawat terbang untuk pembayarannya setelah visa keluar. Kalau tidak khawatir jadwal terbang tidak sesuai dengan tanggal dan lama waktu yang ada di visa apalagi kalau tangal keberangkatan tercantum berbeda dengan tanggal ketentuan visa tadi.

Oh, ya sekarang (September 2014) pengurusan visa sudah dengan sistem”online” atau intenet dan “outs-sourcing” atau pranala luar. Melalui internet dan atau menempatkan kantor atau agen khusus yang menjadi Pusat Aplikasi Visa di beberapa tempat yang terpusat pada berbagai mall moderen di Jakarta. Pusat aplikasi itulah nanti yang membawa semua administrasi kepada ked ***utaan untuk konsuler visa masing-masing negara meneliti dan mempertimbangakan yang pada akhirnya diterima atau ditolak status visa sesorang. Dengan begitu, pintu kantor kedutaan besar di Jakarta tidak lagi seperti masa lalu orang kelihatan antri panjang sejak proses awal, kecuali pada hari terakhir kalau memang anda harus dipanggil ke kedutaan.

Bila visa sudah ditolak, jangan harap ada negosiasi. Bila diterima dan di passport anda sudah tertera stempel visa dalam berbagai bentuk tetapi dalam format yang hampir sama, maka spontanlah anda mengucapkan alhamdulillah dan bersyukur kepada-Nya. Selamat berkunjung ke negara yang anda idamkan. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s