Genetika Intelektual Minangkabau dan Perjuangan Natsir

Ilustrasi dari Internet. Natsir versus Soekarno

Bio-intelektual dan Perjuangan Mohammad Natsir(Bagian I)

Pengaruh Dinamika Intelektual Minangkabau

Oleh Shofwan Karim

Pengantar Redaksi :

 Dalam rangka menggali khazanah intelektual, perjuangan dan amaliah tokoh Indonesia dari Minangkabau, kali ini SINGGALANG menampilkan DR. Mohammad Natsir. Artikel ini ditulis  oleh Shofwan Karim yang kini sedang menggeluti pemikiran tokoh dan pejuang Islam nasional dan internasional  yang satu ini. Tulisan ini tediri dari empat bagian yang yang dimuat secara bersambung. Selamat membaca. (Red) .                                                          

Pendahuluan

Mohammad Natsir (1908 –1993) merupakan pejuang struktural dan kultural Islam Indonesia yang tak ada bandingannya. Secara struktural ia berjuang di tataran suprastruktur politik sebagai eksekutif pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri. Begitu pula di infrastruktur ia memimpin partai Masyumi satu dekade sebagai ketua sekaligus  anggota fraksi besar Masyumi di konstituante, lalu  melawan Soekarno bersama PRRI dan masuk penjara. Belakangan ia menjadi oposan orde Baru sebagai anggota dan nara sumber  kelompok petisi 50. Secara kultural ia terjun ke dunia dakwah, pembinaan kader, mujtahid Islam, pemikir dan penulis. Dengan begitu, sejak masa pertumbuhan, pemunculan di belantika perjuangan dan pematangan pemikiran serta amal-kiprah dakwahnya, M. Natsir tidak pernah lepas dari Islam .

Deskripsi analitis berikut merupakan refleksi kehidupan  Mohammad Natsir dalam beberapa fase. Di dalam fase-fase kehidupannya  itu terdapat pergumulan  pemikiran Natsir dalam masalah  kebangsaan yang berintikan nasionalisme-islami dan menolak ideologi nasiona­lisme sekuler. Ideologi Islam menjadi sumbu penggerak  perjuangan Natsir  sejak muda, di masa pra kemerdekaan  dan pergelutannya secara  langsung dalam kehidupan politik dan kenegaraan  di  era kemerdekaan sampai dia mundur dari gelanggang politik praktis  di peralihan ujung masa 1960-an ke 1970-an.  

Mohammad  Natsir merupakan tokoh pendidik, penulis  produktif, pembela Islam dan ulama, pemikir, politisi-negarawan,  penggerak dan praktisi dakwah multi dimensi. Secara umum kehidupannya dapat diikhtisarkan kepada beberapa fase. Fase pembentukan, pertumbuhan, pemikir  dan politisi-negarawan, serta pemikir dan pengabdi  dak­wah. Fase-fase  itu dilaluinya pertama, di  kampungnya Solok,  Maninjau  dan Padang tempat  lahir dan masa remajanya  1908-1927.  Kedua,  di Bandung  menuntut ilmu, menulis dan menjadi pendidik  1927-1945. Ketiga,  di Jakarta   sebagai politisi dan negarawan  1945-1966. Keempat, di Jakarta sebagai pendakwah, pegiat amal sosial, anggo­ta Petisi 50 dan aktivis Islam internasional 1966-1993.

Kelahiran Hingga Remaja (1908-1927)

Mohammad Natsir, gelar Datuk Sinaro Panjang, lahir di  Kampung Jembatan  Berukir, Kecamatan  Lembah  Gumanti,  Alahan  Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 dan wafat di Jakar­ta,  7 Februari 1993. Sebagai pepatah, manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang, maka Allah  Yarham  DR. Mohammad  Natsir telah meninggalkan nama yang sangat terkesan  di hati ummat Islam Indonesia khususnya dan dunia Islam umumnya.

Mohammad Natsir lahir dari pasangan ibu dan ayah, Khadijah dan Idris Sutan Saripado. Ayahnya, Idris Sutan Saripado adalah  Asis­ten  Demang di Bonjol, kemudian menjadi juru tulis  Kontrolir  di Maninjau.  Mulanya Natsir sekolah  Gubernemen  berbahasa Melayu sampai  kelas  2, tinggal bersama kedua  orang  tuanya,  kemudian ia pindah  ke Padang dibawa Eteknya (saudara ibu) yang bernama  Rahim. (Panitia Buku, 1978:1-3.)

Kepindahannya  ke Padang karena ingin masuk sekolah Hollands Inlands School  (HIS) yang   ada   di  kota  ini.  Siapa  tahu   keinginan   itu   bisa terkabul.(Ibid.)Tidak diterima di HIS pemerintah, ia masih  beruntung dapat  masuk  HIS swasta Adabiyah yang baru dibuka  DR.  Abdullah Ahmad. HIS Adabiah secara resmi didirikan 23 Agustus 1915. Tanggal ini sekaligus dijadikan Hari Ulang Tahun Adabiah yang diperingati sekali 5 tahun. (Amirsyahruddin, 1999: 49).

Lima bulan sekolah di HIS swasta Adabiah di Padang, karena ada HIS pemerintah dibuka di Solok, Natsir mencoba masuk ke  sekolah ini. Kebetulan ayahnya pindah tugas ke Alahan Panjang dan  memba­wanya singgah  ke kota ini. Karena kelas 1 sudah penuh,  Natsir meminta  dirinya dicoba masukkan ke kelas 2. Belakangan  terbukti dia mampu mengikuti pelajaran di kelas yang lebih  satu  tingkat itu. Keadaan ini membesarkan hatinya, sekaligus memenuhi  keingi­nannya  untuk masuk HIS pemerintah. Di samping  motivasi  belajar yang  tinggi, boleh jadi HIS Adabiyah yang dimasukinya di  Padang tidak  kalah  mutunya  dengan sekolah HIS pemerintah  di Solok, sehingga  dasar ilmu pengetahuan yang diterimanya di kelas 1  HIS di  Adabiyah Padang itu telah memberikan modal dasar  yang kokoh bagi Natsir ke tingkat selanjutnya.

Di kota ini ia tinggal di rumah saudagar H. Musa, ayah seorang anak siswa kelas 1 di HIS yang sama. Sambil pagi sekolah di  HIS, sorenya  Natsir belajar agama di Madrasah Diniyah  dan  malamnya mengaji  al-Qur’an dengan Angku Mudo Amin. Di kelas tiga  Diniyah ia  terpilih sebagai guru bantu. Inilah awal Natsir remaja  mulai meresapi  jiwa  pendidik.  Tiga tahun  kemudian  atas  permintaan Rabi’ah, sang kakak,  ia kembali ke Padang  dan dapat diterima di kelas  lima  HIS pemerintah yang memang dari  dulu  diidamkannya. Sebelumnya ia tidak bisa masuk sekolah ini karena ia anak pegawai kecil. Pada saat itu mulai tertanam keyakinan dalam hati sanubari Natsir.

Pertama, niat yang kuat dan usaha  sungguh-sungguh akan dibukakan  Allah jalan untuk mencapai cita-cita.  Kedua,  hatinya pedih melihat ketidakadilan yang berlaku di tengah masyarakat. (Panitia Buku,1978:6).  Ia menamatkan HIS ini tahun 1923. Ketika kemudian  melanjutkan sekolah  ke  MULO  (Middlebare Uitgebreid  Larger  Orderwys),  ia mendapat  bea-siswa  yang  sejak  semula  didambakannya  lantaran ekonomi  keluarga pas-pasan. Di MULO ia mulai  belajar  memainkan alat  musik  biola dan bebrapa waktu kemudian di sekolah ini ia aktif di kepanduan  Natipij  (Islamitische Padvindrij) dari organisasi pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) dan perkumpulan  pemuda Jong Sumatera. Di dunia kepanduan ini  Natsir muda sebagaimana juga lazimnya waktu itu, tokoh-tokoh yang menjadi pejuang Indonesia di belakang hari, ia  menempa diri.

Kepanduan  ini mampu memberinya bekal, menumbuhkan jiwa  kesa­tria dan rasa kebangsaan yang paralel dengan jiwa keislaman.  Di samping itu dapat difahami bahwa lingkungan sosial, kultural  dan dinamika intelektual di Minangkabau pada dekade kedua dan  ketiga abad  ke-20  itu  sangatlah dinamis. Di  tahun-tahun  itu  Natsir remaja  menghirup  cakrawala dan dinamika  intelektual.  Sekolah Adabiyah  tempatnya  belajar, meskipun hanya  beberapa  waktu, agaknya memberikan dorongan yang kuat baginya untuk memahami ilmu agama dan ilmu umum secara paralel dan integratif.

Pendiri Adabiyah, Abdullah Ahmad adalah sosok ulama  pembaharu di awal abad ini di Minangkabau bersama-sama dengan Abdul  Karim Amrullah, dan Jamil Jambek. Mereka bertiga adalah tokoh  sentral Kaum  Muda–suatu istilah untuk mereka  yang  memurnikan  ajaran Islam dan berpandangan maju– sama-sama alumni halaqah pendidikan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekah. Pada tahun-tahun ini diskursus,  perdebatan  dan wacana  keislaman  marak.  Bersamaan dengan munculnya dikhotomi Kaum Muda dan Kaum Tua –istilah untuk ulama  tradisional–,  masing-masing mempunyai  tokoh,   lembaga pendidikan dan media komunikasi massa berupa jurnal dan  majalah. Madrasah  Thawalib  Padnag Panjang dan  Adabiyah di Padang merupakan lembaga  di  antara  beberapa  lembaga pendidikan di kalangan Kaum Muda.

Sementara  Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Ampek Angek, Candung, Agam di samping  surau-surau tradisonal  merupakan  lembaga pendidikan di kalangan  Kaum Tua. Abdullah Ahmad bersama rekan-rekan sehaluannya menerbitkan  maja­lah Al-Munir  yang terbit di Padang tahun 1911-1915. Kaum  muda lainnya menerbitkan Al-Bayan, Al-Imam, Al-Basyir dan  Al-Ittiqan. Sementara Kaum Tua dengan tokoh sentralnya antara lain Khatib Ali di Padang, M. Sa’ad Mungkar, Sulaiman al-Rasuli, menerbitkan pula Al-Mizan  dan lain-lain.

Di antara Kaum Muda dan Kaum Tua  sering diadakan debat terbuka untuk membahas sosal-soal agama dan  kebu­dayan  yang berasal dari kehidupan agama. Perdebatan itu kadang-kadang menimbulkan pertikaian yang berimplikasi terbuka, kadang-kadang terutup. Pertikaian Kaum Tua dan Kaum Muda ini baru hilang, setelah ulama Minangkabau bersatu dalam Majelis Islam Tinggi Minangkabau untuk menghadapi politik pemerintah Jepang. (Mahmud Yunus, 1979:91-93.)

Adalah sangat  masuk akal, kalau dinamika sosial, budaya dan keagamaan, serta intelek­tual  yang demikian langsung atau tidak, memberi  pengaruh besar kepada Moh. Natsir di masa remaja  yang ditempuhnya di ranah  ini sejak kelahiran 1908, belajar di HIS 1916-1923 dan kemudian  MULO sampai 1927.

Pergumulan Ideologis Nasionalis Islami (1927-1945)

Setelah lulus MULO di Padang 1927, Natsir masuk AMS  (Algemene Middlebare School) di Bandung dengan bea-siswa Rp.30. Saat usianya  19 tahun, ia tinggal di  rumah Latifah, eteknya di kota  yang kala  itu  dijuluki Paris van Java tersebut. Di sekolah  ini  di samping  belajar Bahasa Belanda ia belajar Bahasa  Latin,  Bahasa Prancis  dan  Kebudayaan Yunani,  memperdalam  sejarah  peradaban Islam,  Romawi dan  Eropa dalam Bahasa Artab  dan  bahasa  asing lainnya. Dalam usia relatif muda (21) tahun Natsir telah  mengua­sai lima bahasa asing: Arab, Belanda, Inggris, Prancis dan Latin. Di  samping  bahasa Indonesia dia menguasai  dua  bahasa  daerah, Minangkabau dan Sunda. Dengan “ilmu alat” bahasa dan filsafat yang dikuasainya memudahkan Natsir menjelajah dunia ilmu dan  intele­ktualitas. (Ahmad Suhelmi, 1999:23-24.)

Di  kelas   2 AMS ia sudah sanggup meneliti  dan  menganalisis “Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula Bagi Rakyat  di  Pulau Jawa”  dan  berani memaparkannya di depan kelas.  Menurut  Natsir pengaruh  penanaman tebu dan pendirian pabrik gula  itu terhadap rakyat di Pulau Jawa adalah negatif. Dalam tempo 40 menit  Natsir membacakan  analisisnya  di depan kelas menguraikan  bukti-bukti nyata  bahwa tidaklah benar rakyat di Jawa mendapat  keuntungan besar dari pabrik-pbarik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang untung  ialah  kaum pemilik modal dan para Bupati yang memaksa rakyat  dengan  perintah  halusnya,  supaya  menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan sewa yang amat rendah. Sistem bekerja pabrik gula itu menjadikan rakyat tani miskin tetapi “merdeka”  tadinya, menjadi  buruh  pabrik  yang terikat kepada  upah.  Mereka  tidak pernah terbebas dari hutang terus menerus. (Panitia Buku, 1978:15).

Agaknya  Natsir muda secara obyektif telah mengkaji fakta  dan data serta menganalisis hasil temuannya itu sehingga sampai  pada kesimpulan demikian. Hal ini tentu saja menunjukkan rasa  kepedu­liannya  yang  tinggi terhadap bangsanya yang  kala  itu seperti telah  dimaklumi  berada di bawah  penjajahan  Belanda.  Bukanlah suatu kebetulan kalau Natsir melakukan penelitian mini itu  dalam rangka  menunjukkan betapa kebijakan pertanian,  perkebunan  dan ekonomi Belanda terhadap bangsa Indonesia hanya untuk kepentingan sepihak penjajah itu semata.

Perasaan  berpihak  kepada rakyat kecil  itu,  membawa  Natsir tertarik kepada kepada soal-soal “politik” dan ia mulai memperha­tikan pidato-pidato dan gerakan Haji Agus Salim, HOS  Cokroaminoto, Cipto Mangunkusumo dan lain-lain. Pergaulannya berkembang  ke kalangan  agama. Melalui Fakhruddin al-Kahiri, Natsir  berkenalan dengan Ustazd A. Hasan. Dilahirkan di Singapura tahun 1887, Ahmad Hasan adalah seor­ang yang berasal dari keluarga campuran, Indonesia dan India. Ayahnya bernama  Sinna Vappu Maricar, adalah juga seorang penulis, seorang ahli dalam Islam dan kesusasteraan Tamil. Ia pernah menjadi redaktur dari Nur al-Islam, sebuah majalah agama dan kesusastraan Tamil, menulis beberapa kitab dalam bahasa Tamil dan beberapa terjemahan dari bahasa Arab.  Ibu Ahmad Hasan berasal dari keluarga sederhana di Surabaya tetapi sangat taat beragama. (Deliar Noer, 1980: 97-98.)

Di Bandung di rumah A. Hasan ada sebuah mesin  cetak  yang  dijalankan dengan tangan.  A.  Hasan menulis Tafsir Qur’an al-Furqan yang langsung dicetaknya sendiri  dengan bantuan  tiga orang yang telah diajarnya terlebih dulu.  Natsir tertarik  dengan A. Hasan yang sederhana, rapi dalam kerja, alim dan  tajam dalam bertukar pikiran, berani mengemukakan  pendapat dan pendirian, tidak peduli apakah orang lain setuju atau tidak. (Panitia Buku , 1978:16).


Selanjutnya  Natsir  menjalin hubungan yang akarab  dengan  A. Hasan sambil berdiskusi dan  memperdalam  pemahamannya  tentang soal-soal Islam dengan terus tekun studi di AMS. Perasaan fanatik membela Islam mulai muncul dalam diri Natsir. Ini berawal  ketika diajak  guru  gambarnya menghadiri khutbah Pendeta Protestan  DS Christoffel  yang menyerang Islam. Natsir membuat sanggahan  yang dimuat  dalam Surat Kabar Algemeen Indisch Dagblad  (AID)  dengan judul ” Qur’an en Evangeli” (Perbandingan antara al-Qur’an dengan ajaran  Nabi Isa) dan ” Muhammad als Profeet”  (Muhammad  sebagai Rasul.) ( Ibid.h.17.)

Dinamika intelektual dan pemahaman Islam Natsir semakin intensif. Hal itu semakin berkembang akibat interaksi dan pergaulannya yang  semakin dekat dengan A. Hasan. Menurut pengakuan Natsir selama ia di Bandung itu, ada tiga guru yang mempengaruhi alam pikirannya. Pertama, Tuan Ahmad Hasan, yang kemudian menjadi pimpinan Persis Bandung, lalu Haji Agus Salim pemimpin Syarikat Islam dan Syekh Ahmad Syoerkati, pendiri al-Irsyad. (Tempo, 2 Desember 1989: 52). Kemudian kedua  orang  ini, Ahmad Hasan dan M. Natsir terlibat penuh dalam gerakan Persatuan Islam (Persis).

Persatuan Islam (Persis) berdiri 17 September 1923 di Bandung. Pendirinya adalah dua usahawan yang berasal dari Palembang dan menetap di Bandung, KHM Zamzam dan H. Muhammad Junus. (Lihat, H. Endang Saifuddin, A. Hasan Wajah dan Wijhah Seorang Mujtahid, Bandung: Firma Al-Muslimun, 1984, h. 13,) Keterlibatan A. Hasan dan Natsir dianggap oleh Deliar Noer sebagai suatu keberuntungan  bagi Persis.  Yang pertama, Ahmad Hasan  dianggap  guru  Persis  yang utama pada masa sebelum perang Dunia II, dan yang kedua  M. Natsir dianggap pada waktu itu merupakan seorang anak muda yang sedang berkembang dan yang tampaknya bertindak sebagai jurubicara dari  organisasi tersebut dalam kalangan kaum terpelajar. 

(Bersambung ke bagian II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s