Jane Idleman Smith,Islam di Amerika:

Tumbuh dan Berkembang di Ladang Kehidupan

Jane Idleman Smith, Islam di Amerika:

Tumbuh dan Berkembang di Ladang Kehidupan[i]

DSC00227
Ilustrasi. Seorang Mahasiswi Indonesia di OSU Columbus (Dok. SK)

Pembahas:  Shofwan Karim[ii]

“Sedangkan Amerika Serikat, karena dukungannya terhadap negara Israel, kerjasamanya dengan penguasa Muslim dianggap berlawanan dengan kepentingan Islam yang sejati, eksploitasi ekonominya, dan upaya misionaris Kristianinya yang nampak bertujuan memusnahkan Islam, telah menjadi target kritik keras dari banyak pemimpin Muslim, terutama pada lima puluh tahun terakhir abad ke-20.” (hal. 64). Karena itu upaya intelektual untuk memaparkan posisi umat Muslim di Amerika kepada komunitas publik Muslim di berbagai belahan bumi, seyogyanya diiringi dengan rekonstruksi kebijakan luar negeri Amerika terhadap dunia Islam yang lebih masuk akal, objektif, kondusif dan santun.

Islam in America, ditulis oleh Jane I Smith (JIS) adalah buku  yang diterbitkan oleh Columbia University Press pada tahun 1999. Untuk publikasi dan penjualan khusus di Indonesia diberi hak oleh penerbit kepada Yayasan Obor Indonesia. Buku yang dalam bahasa Indonesia menjadi : “Islam di Amerika”  ini diterbitkan atas kerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, edisi pertama April 2005.  

Menilik waktu tahun terbitnya yang asli (Bahasa Inggris) th 1999 dari buku ini, berarti tidak ada yang harus dicurigakan kepada penulis. Tidak ada alasan untuk mengaitkan penerbitan buku ini  dengan situasi internasional War on Teror oleh Amerika pasca  peledakan dahsyat Twin Building WTC 9 September 2001 lalu.

            Akan tetapi ketika buku ini diterbitkan dalam edisi Bahasa Indonesia di bulan April 2005, maka bila ada pembaca  memaknainya sebagai mengandung makna tersirat  tertentu, maka hal itu tentu dapat dimaklumi. Misalnya dalam rangka memberikan penjelasan kepada pembaca di Indonesia yang memang kurang informasi akurat tentang seluk beluk masyarakat Amerika secara umum maupun umat muslim di negeri Paman Sam ini, secara khusus.

Atau pula, buku ini dapat diharapkan memberikan sedikit kelarifikasi terhadap citra Amerika yang kurang menarik dari media yang menggambarkan terlalu memusuhi kaum muslim. Padahal kaum Muslim di Amerika sendiri menurut perkiraan umum sekitar 7 juta orang bahkan ada yang mencatat jumlah itu  hampir 10 juta orang . Islam menjadi agama yang paling cepat berkembangnya di Amerika. Walaupun jumlah Muslim melebihi jumlah pemeluk Yahudi yang berjumlah sekitar 5 juta orang, tetapi yang disebut belakangan ini jauh lebih berpengaruh dan menentukan dalam kebijakan luar negeri Amerika, khususnya dalam hubungan dengan dunia Islam dan Timur Tengah.

  Buku yang dalam edisi bahasa Indonesia diberi kata pengantar oleh Dr. Alwi Shihab ini[1], terdiri atas 8 bab ditambah dengan profil orang-orang Muslim Amerika terkemuka, keronologi, daftar istilah, sumber-sumber kajian Islam di Amerika, ideks dan beberapa baris tentang penulisnya. [2]Buku ini  dimulai dengan uraian dan bahasan secara amat ringkas pengenalan dasar tentang Islam. Pada bab satu tentang iman dan kebiasaan Muslim. JIS menyinggung apa yang umum kita sebut di Indonesia sebagai rukun   iman   dan rukun Islam secara selintas. Dengan ringan, lincah dan menyentuh, JIS menguraikan sejak dari iman kepada Allah sampai kepada hari berbangkit. Begitu pula dari makna syahadat sampai kepada haji. Keduanya merupakan komponen dasar dalam Islam.

Bagi para pemula tentang  Islam, atau bagi pembaca non-muslim diskripsi singkat dan pendek pada pokok-pokok pemahaman komponen dasar tadi niscaya memberi dorongan untuk mengenal agama yang satu ini semakin dalam. Misalnya kutipan berikut tentang rukun Islam:

“Kesaksian akan keesaan Allah dan kerasulan Muhammad. Penegasan  ganda ini disebut syahadat—yang secara harfiah berarti “bersaksi”—dan berasal langsung dari rukun-rukun iman. Kelima tiang, atau  keawajiban, semuanya berlaku atas setiap orang Muslim, dan syahadat adalah dasarnya. Seseorang yang melalaikan empat kewajiban lainnya tetap seorang Muslim, walaupun, tentunya, seseorang sangat dianjurkan untuk menjalankan semuanya. Namun jika seseorang tidak mempercayai dan tidak mengucapkan kesaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad berarti ia berada di luar masyarakat Islam” (hal.14)

            Dengan demikian, pembaca mendapat intro awal tentang apa itu Islam sebelum diajak untuk lebih jauh mengenal posisi dan suasana puspa ragam kaum muslim di Amerika. Mereka diajak mengenal apa itu hal-hal yang paling esensial dan hakiki dari Islam tersebut.  Maksud JIS menjelaskan itu tentu bukan dalam rangka memberikan pengetahuan yang komplit tentang Islam kepada pembaca. Lain tidak hanya sekedar peransang untuk memberikan sketsa singkat saja. Dan uraian  ini tentulah ditujukan kepada mereka yang awam dan belum mengenal Islam. Bagi yang sudah mengenal Islam tentu saja apa yang disampaikan JIS  tentang snapshot (potret) sekilas itu hanya mengingat-ingat saja. Yang penting, JIS pada setiap ujung pragraf dan alinea  selincamnya itu selalu mengaitkan dan menghubungkan dengan praktik dan cara-cara yang  berlaku  dalam keseharian masyarakat muslim Amerika. Misalnya, JIS menyambung kalimat kutipan di atas tadi sebagai berikut:

“Mereka yang hendak masuk ke dalam Islam di Amerika—atau di mana saja—hanya perlu mengucapkan kalimat syahadat tiga kali secara resmi. Dan, dengan demikian sudah efektif dan sah secara hukum menjadi orang muslim. Banyak bangunan di Amerika Serikat dan Kanada telah diubah fungsinya menjadi masjid, dan salah satu penanda status baru bangunan-bangunan tersebut adalah kaligrafi yang bertuliskan kedua kalimat syahadat yang dilukis di dinding atau digantung sebagai tanda atau spanduk di bagian depan” (hal.15)

Pada bab dua tentang sumbangsih bagi perkembangan Islam, JIS menguraikan aspek sejarah tentang Nabi Muhammad, pewahyuan Alqur’an, para perintis Islam pertama, para sahabat Rasulullah, perkembangan awal masyarakat Islam, perkembangan filsafat, teologi dan tasawuf, masa jaya Islam yang dalam bahasa JIS disebut   ”tahun-tahun berselang”, serta cendekiawan Islam abad ke-20.

Pada anak judul “Tahun-Tahun Berselang”, JIS dapat dikatakan ingin mengungkapkan akar masalah, mengapa umat Islam di dunia  melawan dominasi Barat sepanjang abad ke-19 dan melawan Amerika sejak pertengahan abad ke-20 dan tentu saja awal abad ke-21 ini. Sayangnya JIS tidak hendak memfokuskan tulisannya ke arah sana lebih jauh. Padahal menurut penulis pembahas buku ini, inilah misi terpenting yang harus diungkapkan oleh para penulis di Amerika, di Indonesia, di dunia Islam maupun penulis-penulis lainnya. Terutama bila ingin menciptakan tatanan dunia yang damai, melenyapkan kecurigaan dan memperkokoh persahabatan yang abadi mengisi  masa depan dunia milik bersama dengan melenyapkan beban psikologis dan mental.

Walaupun demikian, sekitar 2 sampai 3 halaman dari buku setebal 356 halaman ini, pada halaman 62, 63, dan separuh halaman 64, JIS telah  menyinggung soal yang amat penting ini.  Dimulai dari menggambarkan apa yang disebutnya sebagai petualangan coba-coba kolonialis Barat menghantam tiga kekaisaran besar Islam: Turki Usmani di Timur Tengah, Safawi di Persia dan Moghul di India. JIS mengatakan bahwa fase naas telah dimulai Barat untuk menjalankan keyakinan yang teramat picik menyatukan nafsu ekonomi, memperluas wilayah kekuasaan dan keyakinan bahwa Barat ditakdirkan Tuhan untuk menguasai dunia (manifest destiny).

Bermula dari  invasi Napoleon Bonaparte atas Mesir pada 1798 M, Barat meyakinkan dirinya sendiri  bahwa ia memiliki misi untuk memberadabkan dan mendidik sebagian besar wilayah dunia lainnya, terutama yang berada di bawah kekuasaan Muslim. Misi yang dikatakannya sebagai coba-coba ini merupakan petualangan campur tangan militer, politik dan misionaris Kristiani. Pendapat seperti ini, merupakan pendapat yang sudah umum di kalangan cendekiawan muslim dan sejarahwan dunia. Harun Nasution (1921-1997), seorang guru besar pemikiran Islam Indonesia yang membawa perubahan mendasar  tahun 1970-an pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia pada 14 IAIN telah menyinggung hal itu[3]. Begitu pula Aqib Suminto, guru besar lainnya tentang bagaimana pola kolonialis Belanda menguasai Indonesia dan menindas pemikiran Islam yang dianut para tokoh Muslim pejuang politik sepanjang  tiga setengah abad  sampai pertengahan abad ke-20 lalu. Menurut Aqib, Belanda mempolakan politik Islamnya di Indonesia dengan tiga kategori: biarkan umat Islam beribadah secara tradisional; bantu kegiatan sosialnya; bumi hangus setiap gerak Islam yang bicara soal politik dan kenegaraan.[4]

Kembali ke buku JIS yang kita bahas, dengan pola penyatuan kepentingan ekonomi, politik dan misionaris Kristiani tadi, JIS menggambarkan fakta yang mengantarkan kolonialis Barat mencaplok dunia Islam. Inggris pada abad ke-19 menguasai India dan Malaysia, Belanda menjajah Indonesia dan Rusia mengambil alih Tukistan. Pada tahun 1830 Prancis merebut Aljazair dan seluruh Sahara Tengah, Afrika Barat dan Tengah yang beragama Islam dan pada 1881 merebut Tunisia. Mesir yang sebelumnya diduduki Napoleon dari Perancis direbut Inggris pada 1882,  seterusnya Inggris menguasai semua wilayah sepanjang Sungai Nil hingga ke Sudan. Spanyol, Jerman dan Belgia  juga ikut dalam pesta pora itu. Italia menguasai Libya pada 1911. Kerajaan Turki Usmani yang tinggal nama sudah mengalami keruntuhan direbut Barat baik atas wilayahnya di Eropa maupun di Timur Tengah sendiri.  Bahkan pada Perang Dunia I, Bangsa Arab mengalihkan dukungan mereka kepada Barat dan melawan Bangsa Turki yang sesama Muslim karena mempercayai janji-janji terbentuknya negara Arab merdeka.

Menurut JIS, Bangsa Arab akhirnya menyadari dan tertipu, takut dan terkejut, bahwa Inggris dan Perancis tidak punya niatan sama sekali untuk menepati janji-janjinya dan diam-diam telah sepakat untuk membagi-bagi Timur Tengah menjadi wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Inggris yang saat itu menguasai Mesir dan India mengambil lagi Irak, Palestina dan Lintas Yordania. Prancis yang tadinya sudah mencaplok Afrika Utara, mengambil lagi Libanon dan Siria. Semua ini mereka atur sendiri atas nama “mandat” diresmikan Liga Bangsa-Bangsa yang baru terbentuk. Turki sendiri dibagi-bagi menjadi beberapa wilayah di bawah kekuasaan Barat, hanya tinggal sebagian kecil saja kekaisaran Turki yang luas tadi di bawah kekuasaan Muslim.

JIS mengatakan lebih lanjut, meskipun Iran sudah berusaha netral tidak terlibat dan memihak dalam perang, namun tetap saja diserang pasukan Barat.Pasukan Inggris adalah yang paling banyak di sana, sebagaimana halnya di sebahagian besar wilayah Tmur Tengah lainya. Lantas, yang paling menjengkelkan, menurut JIS dan tentu saja bagi perasaan umat Islam sedunia,  datang lagi pukulan berat dan menambah kesedihan dan penghinaan atas umat Muslim, yakni Deklarasi Balfour yang membentuk pendirian tanah air bagi kaum Yahudi di jantung Palestina yang mayoritas Muslim. Lebih jauh JIS menulis :

“Nampaknya sulit untuk melebih-lebihkan penilaian atas kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan serangan-serangan Barat kepada wilayah-wilayah Islam terhadap rasa harga diri Muslim yang tinggi akan agama dan budaya mereka. Selama abad ke-19, tangungjawab terbesar atas imperialisme Barat ada di pundak Eropa, terutama Inggris dan Perancis. Namun, pada abad ke20 bangsa-bangsa Eropa telah melepaskan kekuasaan politik mereka atas negara-negara Muslim satu demi satu, meskipun batas-batas yang dibentuk di negara-negara terebut masih tetap sebagaimana yang ditetapkan dalam kesepakatan arbitrase pada saat berakhirnya Perang Dunia I. “ (hal.63)

Pasca perang dingin antara Blok Barat yang dikomandoi Amerika dan Blok Timur dikomandoi Sovyet Rusia, di tandai dengan runtuhnya tembok Berlin dan pecahnya Sovyet Rusia menjadi 15 negara dan kini hanya tinggal Rusia, Amerika kini tampil menjadi satu-satunya kekuatan dunia. Tentu saja dengan sekutu setianya Inggris dan Australia. Maka para analis dunia Islam banyak mencurigai bahwa kini seakan telah tercipta pula front baru bagi Barat yang dipimpin Amerika yaitu, dunia Islam. Front ini sengaja diciptakan karena beberapa alasan.

Di antaranya, kandungan dan cadangan minyak bumi  dan gas alam berada di perut bumi di bawah tanah negara-negara Islam. Jumlah penduduk Muslim di dunia pada hampir 70 negara berpenduduk Muslim sekarang telah mencapai satu seperempat milyar, hampir menyamai jumlah penduduk Cina yang merupakan hampir seperempat jumlah total penduduk bumi hari ini. Agama Islam dilaporkan sebagai yang paling cepat perkembangannya di perpindahan abad 20-21 ini. Sistem ibadah dalam Islam amat sederhana dan dapat dipraktikkan dengan mudah oleh semua orang. Islam yang benar adalah Islam yang mempedomani wahyu dan menggunakan serta menghargai logika dan akal  dengan optimal. Islam telah pernah berjaya dalam menguasai filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologio, seni dan arsitektur serta perdaban yang tinggi di masa pertengahan Dinasti Abasiyah  di kala mana waktu itu dunia Eropa dan Barat sekarang dalam keadaan terbelakang. Islam tidak membedakan kehidupan duniawi dan ukhrawi dan tidak menganut prinsip sekularisme yaitu paham pemisahan antara agama dan negara. Wanita dihargai sama dengan pria dalam Islam. Status sosial tidak membawa kemuliaan di sisi Allah kecuali ketaqwaan, yaitu kemampuan mengendalikan diri, mematuhi hukum, beribadah dan beramal dalam praktik kehidupan untuk diri dan masyarakat. Dengan demikian, hak-hak asasi manusia dihargai sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Kehidupan berjamaah dan kolektivitas mesti dipelihara. Islam yang benar tidak membedakan warna kulit dan status sosial dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak mempunyai hirarkhi keagamaan . Setiap orang Muslim tidak memerlukan perantara untuk beribadah kepada Allah.  Tidak ada sistem kerahiban dan sistem kependetaan dalam Islam. Islam amat menghargai dan mensucikan kehidupan rumah tangga bahagia, halal, dan tidak menganut seks bebas. Islam adalah agama akhlak yang mementingkan kedamaian, keluhuran dan kesantunan. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin.

Doktrin dan cita-cita kemanusian, kemasyakatan, sosial, ekonomi, pendidik dan kebudayaan serta ilmu pengetahuan yang merupakan cita-ciata universial Islam itu, tidak selalu sejalan dengan kenyataan dan praktik yang terjadi, bahkan di negeri Islam itu sendiri. Dibawa oleh kepentingan hidup dan kehidupan, karena faktor politik dan ekonomi, kebebasan berekspresi dan berfikir,  maka bumi Allah yang luas ini merupakan tempat kehidupan mencari keridhaan Allah bagi segenap manusia, termasuk manusia Muslim. Karena itu tidak semua kaum Muslim dapat hidup tenteram dan layak tinggal di negerinya sendiri. Dunia Barat yang menganut politik internasional yang digambarkan di atas tadi terkesan berhadap-hadapan dengan dunia Islam, ternyata tidak seutuhnya membuktikan bahwa kaum muslimin menerima hal itu sebagai hal yang faktual dalam kehidupan. Atau sebagian mereka tak peduli dengan wacana mondial yang memperhadapkan  dunia Islam dan Barat itu . Artinya mereka yang tinggal di negeri yang diperintah oleh penguasa Muslim atau diindetifikasi sebagai negara Muslim, belum seutuhnya memenuhi hasrat dan cita-cita universal Islam tadi. Oleh karena itu sejak hampir 2 abad lalu, para imigran muslim berdatangan ke berbagai belahan dunia, istimewa ke  benua Amerika. Terutama mereka yang disebut Afro-Amerika atau keturunan Amerika berasal dari Afrika. Menurut catatan, hampir 30 persen, kaum Muslim Amerika adalah  mereka yang disebut Afro-Amerika itu. Selebihnya, 70 % adalah mereka yang datang dari Timur Tengah, anak benua India-Pakistan dan Asia Tenggara. Mereka inilah yang disebut sebagai kaum muhajirin moderen yang datang ke Amerika.

Di tanah Amerika, kaum Muslim generasi pertama yang datang antara tahun 1875-1912 M., seperti ditulis JIS pada terbitan lainnya[5], komunitas Muslim di negeri itu telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Gelombang berikutnya seperti tak pernah terbendung. Mereka sekarang seakan mewakili pergerakan besar dan identitas: imigran dan pribumi, Sunni dan Shiah, konservatif dan liberal, ortodok dan heterodok. Pendek kata hampir semua protipe Muslim dan alirannya di dunia, dewasa ini ada di Amerika. Di antara mereka, ada yang masih bercita-cita ingin kembali ke tanahr air asal usul nenek moyangnya, tetapi lebih banyak lagi yang menganggap Amerika adalah tanah airnya secara penuh. Negeri asal bagi mereka hanyalah kenangan sebagai negeri leluhur saja. Oleh karena itu bagi mereka, Amerika adalah segala-galanya. Apalagi semakin hari, undang-undang dan peraturan tentang kewarganegaraan dan imigrasi membuka peluang untuk itu. Dengan demikian, mereka manggangap Amerika adalah ladang kehidupan, tempat mereka bertumbuh dan berkembang sampai akhir hayat dikandung badan, maut menjemput. Di antara mereka ada yang bekerja dan berkarir di dunia militer, bisnis, pengajar di sekolah dan universitas, ilmuwan dan bidang-bidang lain.

Di luar itu, di antara mereka banyak pula yang getol mengikuti perkembangan dunia Islam secara umum dan mempertanyakan kebijakan luar negeri Amerika. Meskipun kebijakan luar negeri Amerika amat tergantung kepada tokoh yang berkuasa di zamannya. Antara Bill Clinton dan George Bush, tidak saja berbeda partai yang mengusungnya, yang satu Demokrat yang kedua Republik, bahkan kebijakan pemerintah luar negerinya terhadap dunia Islam bak siang dan malam. Oleh karena itu dalam benak komunitas Muslim  tetap saja mengandung perasaan mendua dan curiga. Menggambarkan secara mengena dan menusuk jantung, JIS menguraikan analisisnya berikut :

“Sedangkan Amerika Serikat, karena dukungannya terhadap negara Israel, kerjasamanya dengan penguasa Muslim dianggap berlawanan dengan kepentingan Islam yang sejati, eksploitasi ekonominya, dan upaya misionaris Kristianinya yang nampak bertujuan memusnahkan Islam, telah menjadi target kritik keras dari banyak pemimpin Muslim, terutama pada lima puluh tahun terakhir abad ke-20. (hal. 64)

Apa yang disinggung JIS ini tentu saja bagian terkecil saja dari contoh target kritik pemimpin umat Islam dan rasa sakit hati kaum Muslim awam di mana-mana. JIS tidak menyebut secara terang-terangan tentang kolaborasi Amerika terhadap penguasa di Dunia Islam di Timur Tengah seperti bagaimana Amerika menjadi komando 27 sekutunya sewaktu membela Kuwait melawan Irak tahun 1990. Kemudian JIS tidak menyebut-nyebut serangan, pendudukan dan kemudian kolaborasi  Amerika terhadap Afghanistan dan pendudukan Amerika terhadap Irak sampai sekarang ini. Tentu saja soal ini dapat diperdebatkan. Keikutsertaan Amerika berkolaborasi atau sebaliknya melawan pemerintah  nasional suatu negara Islam dapat  dilihat dari berbagai sisi dan bisa diperdebatkan.  

Dalam kasus Indonesia, misalnya ketika Amerika merangkul Sukarno pada awalnya  kemudian melawannya dan  berpihak ke PRRI untuk melawan pemerintah Sukarno tadi yang dianggap menjadi benteng komunis yang dianalogkan kelengahan Amerika di Cina sehingga komunis berkuasa di situ. Keadaan ini dikemukakan secara gamblang  oleh  Audrey dan George McT. Kahin yang menyingkap keterlibatan CIA dan perubahan politik Eisenhower terhadap pemerintahan Indonesia tahun 1950-an.[6]

Kembali ke dunia dunia internasional, belakangan ini Osama Bin Laden telah dicitrakan  oleh opini  dan media Barat sebagai   biang utama terorisme dunia. Oleh rumor yang berkembang, Osama disinyalir sebagai dulunya adalah “anak asuh” Amerika pada perang Afghanistan melawan Sovyet-Rusia. Tiba-tiba dalam peristiwa  9 September 2001, Osama menjadi “durhaka” sebagai Malinkundang[7]. Osama dianggap menjadi arsitek utama dari serangan dahsyat yang menelan korban 3 ribu nyawa dan hancurnya WTC di New York 4 tahun lalu itu. Sampai sekarang, meski tidak begitu gencar lagi, media dunia tetap menggambarkan Osama sebagai  musuh nomor satu Amerika yang tak pernah tertangkap.  

            Bila analisis JIS kita ikuti, maka kita akan memperoleh bandingan yang sepadan untuk menolak pendapat Samuel P Huntington[8] yang berargumen bahwa ketidak serasian umat Islam dengan Barat sebagai benturan Antarperdaban. Artinya bukan soal peradaban yang jadi biang benturan itu tetapi  keyakinan bahwa merekalah (Barat, dan sekarang Amerika) yang ditakdirkan menjadi penguasa dunia (manisfest destiny) yang telah disebutkan bagian terdahulu tadi. Akibatnya sampai sekarang di beberapa belahan  dunia Islam, termasuk Indonesia telah memunculkan apa yang dikatakan sebagai perlawanan terhadap dominasi Amerika tadi.

Oleh para analis,  mereka disebut sebagai garis keras dan garis lunak. Yang pertama lambang kritis  bahkan perlawanan dengan caranya sendiri. Yang kedua mereka yang moderat dan berjuang dengan cara-cara diplomasi . Bom bunuh diri, terorisme, dan anarkhisme adalah kalimat-kalimat yang ditujukan kepada pihak pertama tadi. Padahal bom bunuh diri, perang antara mereka yang berbeda agama, dan anakhirme di luar, yaitu yang dilakukan oleh kalangan yang diidentifikasi sebagai non-muslim, tidak dibesar-besarkan oleh media. 

           Ujung-ujungnya, bagaimana dengan suasana kejiwaan atau suasana batin orang-orang Muslim Amerika yang mayoritas datang dari berbagai belahan dunia Islam lainnya, ketika buku ini ditulis,  JIS menggambarkan :

“Orang-orang Muslim yang berimigrasi ke Amerika terperangkap antara kebutuhan politik atau ekonomi untuk membuat rumah baru di negara tersebut dan beban psikologis karena datang ke tempat yang mereka pandang sebagai penyebab eksploitasi dan penderitaan yang besar” (hal. 64)

Untuk keluar dari perangkap yang disebut JIS itu, agaknya pemerintah Amerika harus mempertimbang-ulang kebijakan luar negerinya. Selebihnya sekarang, kalau kalangan ilmuwan, cendekiawan dan penulis ingin menerangkan posisi yang sebenarnya tentang umat Muslim di Amerika, maka kesempatan amat terbuka dan lapangan garapannya amat luas. Sejalan dengan itu, upaya intelektual untuk memaparkan posisi umat Muslim di Amerika kepada komunitas publik Muslim di  berbagai belahan dunia, seyogyanya harus diiringi dengan rekonstruksi kebijakan luar negeri Amerika terhadap dunia Islam yang lebih masuk akal, objektif, kondusif dan santun.

Akhirulkalam, bagi yang ingin memperdalam semuanya itu, rujukan dan sumber-sumber cukup banyak. Kedutaan besar Amerika telah membuka American Corner pada sembilan  Universitas di Indonesia. Di Sumatera USU(1)  dan IAIN Sumut(2). Di Jakarta ada UIN (3) dan UI(4). Di Yogyakarta ada dua di UGM (5) dan UMY (6). Di Malang ada UMM (7). Di Semarang ada IAIN Walisongo (8). Di Surabaya di Universitas Airlangga (9). Sayangnya dari semua American Corner di Indonesia tadi tak satupun yang berada di Sumatera Tengah atau khususnya Sumatra Barat, lebih khusus lagi kota Padang. Padahal Kedutaan Besar Amerika di Jakarta dapat memilih  salah satu di antara 40-an  perguruan tinggi negeri dan swasta di derah ini seperti  IAIN Imam Bonjol, Unand, UNP,Universitas Muhammadiyah Sumbar, Bung Hatta, Unes, UPI atau Taman Siswa dan yang lainnya.

Ini penting, karena info tentang Amerika yang dominan diakses publik, kaum terpelajar dan generasi  muda di Sumbar hanya melalui media yang amat minim dan internet yang belum memasyakarat. Apalagi informasi itu sulit dikonfirmasi tingkat  akurasi dan kompetensinya. Opini tentang kebijakan luar negeri Amerika yang mendera umat Islam, sebenarnya dapat di telaah secara objektif, apalagi kalau Amerika mau menyadari dan mengubahnya ke yang lebih konstruktif. Selanjutnya upaya yang kondusif harus diciptakan antara Amerika dan dunia Islam. Lebih khusus antara Amerika dan Indonesia, diharapkan lebih diperkuat hubungan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya dan relasi serta komunikasi aktif antara orang dengan orang (P to P) dan NGO, di samping pemerintah dengan pemerintah (G to G) . Kunjungan para ahli dibidangnya, pembicaraan buku seperti yang hari ini dilaksanakan, pertukaran mahasiswa dan pemuda serta para tokoh pemimpin antar kedua negara akan amat berfaedah. shofwan@hotmail.com,shofwan2004@yahoo.com.*****


[i] Makalah Pembahasan Bedah Buku Pusat Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi (PKSBE) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang, Kamis, 25 Agustus 2005.

[ii] Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat dan Peserta Indonesia pada International Visitor Leadership Programme on Grassroots Democracy di Amerika Serikat, 1-26 Mei 2005.


[1] Meskipun tidak disebutkan, Penulis perkirakan Alwi Shihab yang dimaksud adalah Prof Dr Alwi Shihab, mantan Menlu Indonesia Kabinet Presiden Gusdur yang kini  Ketua PKB yang bersengketa.

[2] CV yang lengkap dari JID sebagaimana terlampir.

[3] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

[4] H. Aqib Suminto. Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta: LP3ES, 1986.

[5] Jane I Semith. Pola-Pola Imigrasi Muslim. Kehidupan Muslim di Amerika. Kantor Program Informasi Internasional Deplu AS. Tanpa Tahun, hal. 14.

[6] Audrey R Kahin. Terj. R.Z. Leirissa. Subversi sebagai Politik Luarnegeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia. Jakarta : Grafiti, 1997)

[7] Malinkundang adalah kisah seorang anak yang durhaka kepada ibunya dalam legenda Minangkabau yang kapalnya pecah dan menjadi batu . Sekarang dioramanya dilukiskan di Pantai Airmanis, Kota Padang.

[8] Samuel P. Huntington. Terj. M. Sadat Ismail . Benturan Antarperdaban. Jakarta: Qalam, 2000.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s