NATSIR, HATI NURANI DAN PEMANDU UMMAT

Tunggu terbit. Insya Allah Desember 2020

Bio-intelektual dan Perjuangan Mohammad Natsir(BAGIAN IV/HABIS

HATI NURANI DAN PEMANDU UMMAT

Oleh Shofwan Karim

Pengabdian  di  bidang  dakwah ini bukan  dalam  makna  simbol tetapi secara substantif dan komprehensif baik lisan, tulisan dan bil-hal atau amaliah sosial terutama pendidikan dan kesehatan. Di samping  itu Natsir melalui DDII terus mengirim da’i ke  berbagai pelosok tanah air terutama daerah terisolir, terpencil dan trans­migrasi. Sejalan dengan itu terus membangun Masjid dan  menerbit­kan  berbagai buku, majalah dan lain-lain. (Thohir Luth, 1999:58-62 ).

Atas  dasar  itulah, Nurcholish  Madjid  berpendapat bahwa pemili han dakwah  sebagai wadah  perjuangan M. Natsir merupakan terobosan baru,  perjuangan di Indonesia tidak hanya melalui jalur politik. Perjuangan mela­lui dakwah mempunyai dampak yang lebih panjang dan lebih lestari.  (Harmonis, Maret 1993).

 Di  samping itu Natsir secara aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan  utama dunia Islam internasional.  Natsir   sejak  1967 menjadi Wakil Presiden Kongres Muslim Sedunia atau Muktamar  Alam Islami berkedudukan di Karachi dan anggota Majlis Ta’sisi  Liga Muslim Sedunia atau Rabithah Alam Islami berkedudukan  di  Mekah dan juga Dewan Masjid Sedunia berkedudukan di Mekah.

DDII banyak menghidupkan dakwah Islam di tengah-tengah masyar­akat suku  terisolir dan terasing,  di  pemukiman  transmigrasi. Mahasiswa-mahasiswa yang potensial banyak yang memanfaatkan  DDII di mana Natsir sebagai tokoh sentral memberikan rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan  di luar  negeri  terutama  negara-negara Islam di Timur Tengah. Beberapa lembaga pendidikan Islam di dalam negeri, pembangunan Masjid, penyantunan orang tua,  anak  yatim, dan  rumah  sakit Islam Ibnu Sina di berbagai pelosok  Tanah  Air mendapat  asuhan  dan  dorongan utama dari Natsir.  

Di  Sumatera  Barat,  hadirnya Rumah Sakit  Islam  Ibnu  Sina, berdirinya Akademi Bahasa Asing (AKABA) Bukittinggi,  pengiriman da’i  serta santunan sosial bagi mualaf  di  Kepulauan  Mentawai serta pemukiman transmigrasi di Sitiung, Pasaman Barat,  Silunang Pesisir  Selatan  mendapat perhatian penuh  dari  Natsir  dengan dukungan penuh DDII Sumbar di bawah komando H. Mas’ud Abidin yang sangat  giat pada  beberapa dasawarsa akhir ini.  Beberapa tahun lalu direncanakan berdirinya  niversitas Mohammad Nastir dengan di dahului oleh Sekolah Tinggi Islam di Padang.  Rencana itu tampaknya direalisasikan di Jakarta, dan kini  Universitas Mohamamd Natsir sudah berdiri di ibukota republik ini. Dengan lembaga pendidikan tinggi itu, kemungkinan  jiwa Natsir akan tetap tumbuh di di negerti ini.

Lebih  dari itu Natsir tak pernah lelah  menggembeleng  kader-kader  Islam yang  ikhlas berjuang  untuk  kemulian  dan ketinggian  Islam. Terutama mantan aktivis Gerakan  Pemuda  Islam tahun  1950-an dan mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) yang selalu diserempet dan berjalan terseok-seok di masa peninda­san politik Islam 1973-1985 era Orba. Terhadap kader-kader pemim­pin Islam masa depan, Natsir bukanlah orang yang pesimis. Natsir mengganggap  kader  pemimpim tak bisa dicetak hanya  dalam  satu malam.  

Pemimpin  tidak bisa dicetak oleh kursus  kepemimpinan,  tidak ada universitas pemimpin, ijazah pemimpin. Pemimpin tak bisa  di-SK-kan. Pemimpin tumbuh di lapangan . Yakni setelah  berinteraksi dengan tantangan di dalam masyarakat. Pemimpin harus lahir  dari kandungan ummat  itu sendiri. Lahir dari  lapangan.  Ia percaya bahwa kader ummat dalam jumlah yang terbatas ada namun tidak suka gembar gembor. Pemimpin  itu harus yang berakar  ke  bawah  dan berpucuk  ke atas. Inilah pemimpin  yang  diidamkan  masyarakat. Proses  itu  lahir sendiri dalam suatu perjalanan  sejarah.   Hal itu  disampaikannya  pada  acara syukuran 80  tahun Natsir yang dilaksanakan rekan dan sahabat pada 17 Juli 1988. 

Dalam bagian pada wawancara dengan Panji Masyarakat Juli  1988 itu, Natsir mengibaratkan kader pemimpin  itu  adalah  seperti harapan  Nabi Zakaria yang mendambakan keturunan  yang  akhirnya Allah memberikan keturuan Nabi Yahya. Natsir  optimis  lahirnya Yahya-Yahya  baru. Terutama menurutnya adalah dari Kampus  dan dari  LSM serta kelompok-kelompok pengajian dan pesantren.  Yang penting  menurut  Natsir pada akhir 80-an itu,  tercipta  situasi yang kondusip yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat atau  kebeba­san berbicara.

Calon-calon  pemimpin harus diuji oleh keadaan  dan  tantangan dalam masyarakatnya. Ujian itu ada yang baik dan ada yang  buruk. Ujian atas kebaikan misalnya mendapat kesenangan harta dan  pang­kat,  menurut Natsir bila lulus akan memberikan kelipatan dampak poisitif yang tinggi. Sebaliknya bila gagal, maka yang menanggung deritanya adalah diri, keluarga dan masyarakat. Sebailiknya ujian terhadap keburukan misalnya penderitaan atau kekurangan  harta, bila sukses maka diri akan beruntung dan bila gagal yang menderi­ta  adalah dirinya pula dan tidak terlalu mengganggu  kepada  ke­luarga dan lingkungan. 

Keterlibatan dalam politik dalam makna partisipasi  pemikiran dan gagasan berulang pada diri Natsir pada 1980-an. Yang penting  dicatat adalah ketika ia ikut menjadi penandatangan petisi 50 pada bulan Mei  1980.  Petisi  itu pada intinya mempertanyakan  isi  pidato Soeharto  di Pekanbaru dan Bangkok yang dapat ditafsirkan  bahwa Pancasila dan UUD 1945 identik dengan kekuasaan Soeharto. Artinya setiap upaya mengkritik dan mengoreksi Soeharto dapat diidentifi­kasi sebagai tidak setuju dengan Pancasila dan UUD 1945. Kemudian menggangap ABRI sebagai kekuatan yang dapat  digunakan  Soeharto secara optimal untuk menindas setiap gerakan yang melawan  kekua­saan yang diparalelkan dengan dirinya. 

Pada dekade ini Natsir aktif melawan kehendak Orba yang  ingin mengasastunggalkan Pancasila bagi semua organisasi politik dan organisasi sosial kemasyarakatan. Tampaknya dengan dibolehkannya organisasi  Islam mencantumkan  dalam anggaran dasarnya kalimat berakidah  islam, perkara asas itu diterima dan keluarlah UU No. 5 untuk Orpol  dan No. 8 untuk Ormas pada tahun 1985.

Begitu  pula  pada saat disebarkannya  buku  Pendidikan  Moral Pancasila  yang banyak mengandung ketidak sesuaian dengan  pemi­kiran  ummat Islam Indonesia antara lain menyatakan  semua  agama sama, Natsir secara gamblang mendudukan persoalan itu dan menolak apa yang tercantum dalam buku PMP tersebut dan pada akhirnya buku itu direvisi pemerintah.

Di dalam perjalanan hidup Natsir pada  zaman Orba, beliau senantiasa dimusuhi dalam politik namun beliau  tetap membantu pembangunan Indonesia.  Sampai Allah memanggilnya Ahad, 6 Februari  1993, Mohammad Natsir yang pernah diberikan  gelar Doktor Kehormatan  oleh  salah satu Univeristas di Malaysia  tak  pernah lepas  dari  perjuangan kepentingan bangsa Indonesia dan  ummat Islam  sedunia.  Oleh karena itu pantaslah beliau  dijuluki hati nurani dan pemandu ummat.

KESIMPULAN

Secara  umum,  kehidupan dan perjuangan Natsir  dilalui  dalam empat fase. Fase kelahiran dan remaja dilalui di tanah  leluhurn­ya, Minangkabau dari 1908-1927. Pada fase ini merupakan pembentu­kan  awal  keperibadiannya yang ditempa oleh dinamika  kehidupan sosial  dan intelektual Islam yang sedang marak di awal abad ke-20. Saat ini wacana Islam di ranah Minang sedang bergelora antara Kaum Muda dan Kaum Tua baik secara lisan, tulisan maupun  amaliah sosial, jurnalistik dan pendidikan. Natsir merasakan ketidakadi­lan perlakuan Belanda terhadap masyarakat. Misalnya karena orang tuanya  pegawai rendah, Natsir tidak dapat masuk HIS  pemerintah. Keadaan itu tidak membuatnya mundur. Dengan berbagai cara  ditam­bah keuletan dan kecerdasan, Natsir berhasil menempuh  masa  ini dengan sukses.

Fase pertumbuhan dan perkembangan menuju kematangan dilaluinya di Bandung 1927-1945. Di sini Natsir berhasil  menguasai  infra struktur intelektual untuk senjata dan modal dasar  dalam  karir politik dan perjuangan masa berikutnya. Penguasaan bahasa  asing, ilmu pengetahaun agama dan umum, filsafat serta pergaulannya yang cukup  baik terhadap kalangan agama dan politisi, membuat Natsir matang  dan menjadi tokoh terkemuka dalam perjuangan  kebangsaan, pendidikan dan keislaman.

Fase pengabdian dan kematangan, serta posisinya dalam  kehidu­pan kenegaraan, pemerintahan  dan politik dilaluinya 1945-1958 di Jakarta. Natsir  ikut menjadi pasrtisipan  aktif  dalam  memulai debut  kehidupan negara dan bangsa hasil Proklamasi  17  Agustus 1945. Sempat menjadi anggota KNIP dan menjadi Menteri Penerangan, Natsir  bahkan secara cemerlang ketika negara terpecah dalam  RIS berhasil  mempelopori  mosi integral  yang  melahirkan  Republik Indonesia ke-2 tahun 1950. Tidak terlalu salah, kalau ia diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Soekarno, Presiden waktu itu  karena kecakapannya  serta  sebagai hadiah atas prakarsa  mosi  integral tadi.  Dari 1958 sampai 1966 merupakan bagian dari pasang  surut posisi  Natsir dalam kehidupan nasional akibat konfliknya dengan Soekarno  bersama  tokoh-tokoh  pro-demokrasi  lainnya.  Ia  rela bergabung dengan PRRI  karena ingin mengingatkan pemerintah pusat supaya bertindak adil terhadap daerah. Akibatnya ia bersama tokoh tokoh lain yang beroposisi terhadap Soekarno ditahan dalam  pen­jara.

Akhirnya  fase  pengabdian Natsir berubah dari  jalur  politik praktis kepada jalur dakwah (1966-1993). Di tengah-tengah  pergu­latannya  dengan jalur dakwah ini, dia tidak melepas sama  sekali tanggungjwabnya  di bidang politik dalam makna luas  sehingga  ia sempat  bergabung ke dalam kelompok Petisi 50 yang sangat  kritis terhadap  pemerintahan Soeharto. Pada tahun 1980-an  ketika  soal Pancasila kembali menjadi isyu, dalam kaitan dengan dunia  pendi­dikan, Natsir melakukan kritik cukup penting terhadap  pengajaran Pancasila  di  sekolah melalui buku  Pendidikan  Moral Pancasila (PMP).

Pada  akhir  hayatnya, ketika  pemerintahan  Soeharto  sedikit bergeser mendekati  Islam,  konon ada  pendekatan  ulang  kepada Natsir.  Tetapi hal itu tidak bisa mengobat luka lama dalam  hati sanubari  pejuang dan pemelihara ideologi Islam itu. Natsir  yang wafat  7  Februari 1993 ternyata di era  reformasi  bersamaan dengan  berubahnya  konstelasi politik, negara dan  pemerintahan tetap  menjadi  inspirasi dan pemandu  spiritual  sebagian besar kalangan  Islam  modernis  Indonesia.  Buktinya  beberapa  Partai Politik  Islam banyak yang mencari akar ideologisnya kembali  ke Islam seperti  Masyumi yang pernah jaya di tangan  Natsir  tahun 1950-an.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 Ahmas Syafii  Maarif, Studi tentang Percaturan  dalam  Kon­stituante:

           Islam dan Masalah   Kenegaraan,( Jakarta: LP3ES, 1985. )

Amirsyahruddin,   Integrasi Imtaq dan Iptek dalam  Pandangan DR. H.

          Abdullah Ahmad, (Padang:  Syamza, 1999. )

Al Chaidar,   Pemilu  1999: Pertaruangan  Ideologis  Partai-Partai Islam

          Versus Partai-Partai  Sekuler, (Jakar­ta: Darul Falah, 1419 H.)

Anwar Harjono,  Dkk.,  Pemikiran  dan  Perjuangan  Mohammad Natsir,

          (Jakarta: Pustaka Firdaus,  1996.)

Ahmad Suhelmi,  Soekarno Versus Natsir: Kemenangan  Barisan Megawati

           Reinkarnasi  Nasionalis  Sekuler, (Jakarta: Darul Falah, 1999.)

Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia  1900-1942, (Jakarta:

          LP3ES, 1980.)

Endang Saifuddin Anshari, A. Hassan Wajah dan Wijhah  seor­ang Mujtahid, (Bandung: Firma Al- Muslimun, 1984. )

————,  Piagam  Jakarta 22  Juni  1945, (Jakarta: Rajawali, 1983.)

Hamid Basyaib-Hamid  Abidin,  Mengapa Partai  Islam  Kalah? 

          Perjalanan  Politik  Islam  dari  Pra-Pemilu   ’99 sampai

          Pemilihan Presiden, (Jakarta: Alvabet, 1999.)

M. Natsir, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin ,Capita  Selec­ta, (Jakarta:

          Bulan Bintang, 1973.)

—————-,  Capita  Selecta  (2),  (Jakarta:  Pustaka Pendis, 1957.)

—————-,  Islam sebagai Dasar Negara: Pidato  Moh. Natsir dalam

          Sidang Pleno Konstituante pada  Tang­gal 12 Nopember 1957,

          (Tanpa Tempat, Nama dan TahunTerbit).

—————–, Demokrasi  di Bawah  Hukum,  (Jakarta:  Media Dakwah,

          1987.)

Majalah Bulanan Media Dakwah, Rajab 1415/Januari 1995.

Majalah Bulanan Suara Masjid, Pebruari 1993.

Majalah Harmonis, No. 43, Maret 1993.

Mohammad Nahar Nahrawi dalam  Seri Monograf Agama dan  Peru­bahan

          Sosial, “Memahami Pemikiran-Pemikiran Muham­mad Natsir

          tentang Islam dan Pembaharuan  Masyara­kat”, (Jakarta:

          Departemen Agama, 1979.)

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara,

         1979. )

“Pemimpin Pulang:  Rekaman Peristiwa Wafatnya M.  Natsir”  , Lukman

          Hakim 1993.

Panitia Buku  Peringatan  Mohammad  Natsir/Mohammad  Roem  70

          Tahun,  Muhammad Natsir 70  Tahun  Kenang-Kenangan

          Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta: Pustaka  Antra, 1978.)

Siddiq Fadzil,  dalam  Seminar Pemikiran  Muhammad  Natsir , “

          Muhammad  Natsir  Ahli  Politik  dan   Negarawan”,

          (Kualalumpur:   Kerjasama  Angakatan  Belia   Islam Malaysia

          (ABIM) dengan Institut Kajian asar  Uni­versiti Islam

          Antarbangsa, 1993.)

Sahar L. Hasan,  Dkk., Memilih Partai Islam: Visi,  Misi  dan Persepsi

          (Jakarta: Gema Insani, 1998.)

Thohir Luth,  M. Natsir Dakwah dan Pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani,

         1999.)

_________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s