Sambutan dan Membuka Musyda PDM Padang, Sabtu, 16 Jumadil Akhir 1437-26 Maret 2016

Serba-Serbi_M

 

Serba-serbi Shofwan Karim dan Muhammadiyah Sumbar

Artikel dari Kategori : Profil

Shofwan Karim | Sabtu, 23 April 2016 – 21:08:45 WIB | dibaca: 32 pembaca
ShofwanKarim Elha dan Koran Haluan
Sambutan dan Membuka Musyda PDM Padang, Sabtu, 16 Jumadil Akhir 1437-26 Maret 2016

Oleh Ketua PWM Sumbar

MUKADDIMAH
Tahmid, tasyahud, shalawat, sapaan kepada undangan dan hadirin serta tamu utama.

PAPARAN ISI
Sejarah telah mencatat, putra Kauman Yogyakarta, Pahlawan Nasional Kemerdekaan Indonesia, Kiai Haji Ahmad Dahlan telah menggagas lahirnya Persyarikayan Muhammadiyah pada 8 Zulhijah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912.
Di dalam usia Muhammadiyah 107 Th Hijriah atau 104 Th Miladiah, tetap konsisten sebagai gerakan Islam amar makruf nahy munkar berdasarkan kepada QS Ali Imran 104.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

Muhammadiyah adalah Gerakan (harakah) Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Muhammadiyah berasas Islam. Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mencapai maksud dan tujuan, Muhammadiyah melaksanakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan, yang macam dan penyelenggaraannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.Penentu kebijakan dan penanggung jawab amal usaha, program, dan kegiatan adalah Pimpinan Muhammadiyah.

Logo_M_Cangkir
Sekarang memasuki milinium kedua atau abad ke-21 M, tantangan semakin berat. Kalau di awal abad ke 20 lalu, Muhammadiyah mendapat tantangan dari penjajah, menghadapi kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan, maka sekarang Muhammadiyah menghadapi tantangan yang tak kalah beratnya. Secara statistic umat Islam semakin menurun persentasenya, dari lebih 90 persen di awal kemerdekaan kini tinggal 87%.
Terjadi degradasi dan diskualifikasi hakikat keberadaan umat Islam secara ideologi dan politik, secara ekonomi dan kebudayaan. Umat islam tidak lagi berfikir secara ideologis dan politik meninggikan Islam, tetapi semakin mementingkan hal-hal yang praktis dan pragmatis. Lembaga pendidikan Islam kalah kualitasnya meski jumlah lebih banyak di bandingkan kalagan lain. Kita masih masih belum bangkit sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang dulu direbut dan diperjuangkan oleh para syuhada muslim. Secara politik, pusat kekuasaan berada di tangan orang-orang yang lemah meskipun muslim tetapi tidak mempertimbangkan Islam. Mereka lebih diarahkan dan ditentukan oleh tangan bayangan para pemodal konglomerat dan pihak lain .

Partai politik Islam semakin mengecil pengaruh dan prolehan kursinya. Organisasi masyarakat Islam tidak ada tanda-tanda untuk menyatukan aspirasinya. Ulama semakin sedikit jumlah dan semakin berkurang pengaruhnya.
Sementara pengaruh hedonisme, filsafat mengagungkan kesenangan lahiriah duniawi; materialisme, paham mementingkan harta dan uang; permisivness atau segala boleh dan serba dibiarkan. Pelacuran, LGBT, minuman keras dan perjudian terselubung dan perilaku serong lainnya bukan hanya musibah, bahkan seperti ada yang merekayasa.
Konglomerat ekonomi menguasai korporasi media, sehingga opini diarahkan kepada mempertahankan bahkan memperbesar konglomerasinya dan amat kurang bernuansa pendidikan moral dan akhlak apalagi konsepsi hakiki dari mengidupkan ruh dan jiwa agama.

Pengalaman dan pengamalan agama masih lebih kelihatan dan bertitik berat kepada upacara-upacara, dan seremonilistik, bukan menghunjam di dalam jiwa dan penghayatan yang berumber kepada hakikat tauhid. Hakikat tauhid dan iman adalah di samping tashdiq bil qalb, takrir billisan adalah al-a’mal bil jawarih. Menghunjam di dalam hati, dikatakan dengan lidah, tetapi yang lebih penting lagi menjadi perilaku yang beraura ilahiah di dalam amal, kerja dan karya perbuatan sehari-hari.

Kita masih banyak menyaksikan bahwa Allah baru hadir di dalam pernyataan dan lidah, tidak hadir di dalam prilaku dan amal. Korupsi, penyalah gunaan wewenang dan kekuasaan, pamer jabatan, pamer diri semakin menjadi-jadi. Perbuatan melanggar hukum masih terjadi di mana-mana. Kataatan kepada hukum belum berkembang secara memadai. Akibatnya, meski jumlah umat yang beribadah tidak berkurang, namun pengaruh iman, akidah tauhid dan ketaatan di dalam kehidupan belum sesuai dengan nilai keimanan dan ketaqwaan itu yang hakiki.

Di dalam keadaan itulah Muhammadiyah dan seluruh warganya harus terus menerus melakukan konsolidasi. Musyda kali ini yang bertema, “Revitalisasi Gerakan Pencerahan Menuju Kota Padang bekemajuan” adalah sangat tepat. Tema ini sinkron sejak dari national dan pusat pada Muktamar sampai ke wilayah, Musywil dan daerah, Musyda. Untuk itu kepada seluruh jajaran Muhammadiyah dan warganya di Sumbar kita berharap memaknai gerakan pencerahan, merevitalisasi persyarikatan dengan mengaktivisasi warga dan dinamisasi kader. Untuk itu berarti seluruh potensi kita kerahkan dengan merevitalisasi diri secara silmultan berarti kita memajukan Kota Padang khususnya dan Sumbar umumnya.

Selanjutnya dalam Musyda tentulah akan menilai dan evaluasi apa yang telah dilakukan, apa yang akan dilakukan, apa masalah strategis dan masalah teknis yang harus dipecahkan. Memperbaharui relevansi Muhammaiyah sebagai persyarikatan yang berbentuk gerakan atau harakah. Gerakan pembaharuan atau tajdid. Gerakan pemurnian akidah. Gerakan meningkatkan ibadah mahdhah dan ammah, muamalah fiddunia. Gerakan sosial pendidikan, dakwah, akhlaqul karimah, kesehatan, ekonomi, filantropi dan kedemawanan serta memberdayakan kaum dhuafa, miskin dan masih tertinggal.
Maka di sinilah pentingnya mekanisme 5 tahunan kepemimpinan organisasi Muhammadiyah dievaluasi. Diminta pertanggungajwabannya. Lalu lahirkan kepemimpinan baru. Di evaluasi program 5 tahun yang lalu dan dibuat program 5 tahun ke depan. Pada hakikatnya program nasional Muhammadiyah seperti yang ditetapkan oleh Muktamar ke 47 di Makassar 1-7 Agustus 2015 dan Musywil PWM Sumbar 25-27 Desember 2015 menjadi rujukan utama oleh Musyawarah PDM Kota Padang ini. Itu semua tentulah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dasari dengan ikhlas, integritas, komitmen, sungguh-sungguh, amanah dan gunakan sumber daya yang ada secara optimal serta kembangkan dengan konten atau isi yang prinsipil dan substantive bermakna sejalan dengan konteks atau keadaan di daerah ini.

III. PEMBUKAAN MUSYDA

Akhirnya dengan mengharap ridha, hidayah dan berkah dari Allah Subhanahu wataala, maka kami atas nama Pimpinan Wilayah membuka secara resmi Musyda Muhammadiyah Kota Padang dengan basmalah, dan mari kita bersama-sama mengucapkan bismilllahirahirrahmanirrahim.
Cukup sekian, terimakasih, terlebih terkurang mohon maaf, billahi fi sabililil haq, fastabiqul khairat, wassalamualaikum warhamatullahi wabarakatuh.
PADANG, 16.6.1437 H-26.3.2014 M, KETUA PWM SUMBAR
TTD.

DR. H. SHOFWAN KARIM ELHA, MA

Shofwan Karim, Koran Haluan, 10 April 2016

Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :

SHOFWAN KARIM ELHA, GENERASI MUHAMMADIYAH BERKAPASITAS TINGGI
Paradoks Kepemimpinan dan Wacana Daerah Istimewa Minangkabau
Dinamika Politik di Nagari Matahari (1981-2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s